16 Mei 2012
Bayangan
saat ini, aku cermin
kau cantik, kuharap bercermin
mari padaku
akan kuberitakan kepadamu
segala peringai
anggun terjalin pita di rambutmu
akan kuberitakan padamu
aroma yang menusuk
rapi terselimut senyum senyummu
akan kuberitakan padamu
sedangkalnya hati,
retinamu yang ada
.
.
Terimakasihmu
ironi untukmu
wajah ayu
laku anggun
sandang senada
hati tak rupa
.
13 Juni 2011
Misik Embun

dan, merimbang kasih atas airmatamu
memeluk sunyi sembari bermimpi
atas cinta tulus seorang ibu
pada ayahanda? atau perihal lindu
nan memerammu pelak
dan, memujimu menandu
rajut rindu mereguh
lan, biaskan semanggi?
merapalkah rengkuh biru?
dan, sungguh agung kau
merapat rupa wangi
ah, cintakah pada pelangi
akankah memejam diri?
blangkar kau robek
dalam peram
ah, cintakah pada biang lala
akankah tepis tangis awan?
biar, biarlah rindu padamu
acuh dendang dendam menderu,
ah, kaulah dewangga!
aku merindui embunmu
Balada Warna
15 Mei 2011
27 Maret 2011
15 Januari 2011
kubawa calon istri untukmu

kekasihku,
Kutemukan bidadari cantik
Berparas molek
Cerdas, kaya pula
Kulihat dia komplit
Anggun,santun dan angkuh
Seleranya tinggi
Kurasa hatinya pun tinggi
Ibumu pasti suka cita
Kau bawa calon sempurna
Sedang aku tak sebanding
Bila harus setinggi dia
13 Desember 2010
Antara Aku, Kau, dan Cinta

*Kepada Mempelai Pria
mau kemana?
malam sudah gelap
lilin sudah kau tiup
sekarang mau apa?
tanyakan saja pada mentari rembulan
mengapa mereka biarkan
dua sejoli dalam temaram
apa mereka tak sudi?
apa tak ada secuilpun kerendahan hati?
apa hanya ada rupa harta tahta?
coba kau tanyakan
perihal hati dan cinta
yang tak ada untung ruginya
yang tidak pakai cek dan giro
coba katakan pada mereka
apakah arti cinta hanya sebatas dunia
apa benar cinta hanya pantas untuk kalangan atas
tidakkah cinta untuk surga akhirat?

* Kepada Mempelai Wanita
bisakah kau dengar?
kau tak berharga seperti mawar
tak juga mahal seperti berlian
gaunmu pun tak cukup untuk menutup kegundahan hatimu
apalagi riasan dan tanpa wewangian
apakah kau tau kemana kau melangkah?
apa kau tau disana terlalu jauh dan luas?
kenapa kau tetap melangkah?
tak taukah kau
membayangkan hidup melayang sepertimu
tak dapat kucerna dalam logika
apa kau sanggup
berjalan tanpa menepi
meski telanjang kaki
dan aroma wewangi?
kepadamu, kekasihku

menatap semburat biru
disudut mata yang beku
kau putarkan lagu lugu
tentang cinta yang ambigu
ku anggap kau tlah dewasa
nafas dan langkahmu akan lepas
tak perlu dituntun
kau pun tak perlu merapuhku
karna aku telah rapuh sejak dulu
hatiku tinggal separuh
cinta padamu bukan kubertaruh
aku akan dewasa sepertimu
harusnya kaupun terjaga
seperti aku merapal sajak
dan berjalan atas kata kata
mengapa pula kau ragu
akan makna cinta dihatimu
semua bukan ambigu
kecuali kau tak menapak jalanmu
pada rapuh jingga, cinta

meski kan gugur
ku tetap pada pepohon
dan memohon
ku untukmu
bukankah ombak memarka jejak
tinggal airmata
dan kerang keong bimbang
mengertikah
cumulus nimbus menikam
kucur hujan
pelangi tak datang
padamu bintang
lenyap dikerdip mentari
menyisa kerinduan
jengkal kelabu
malam bisu
menebar ragu
bertepat dikalbu
lepas angin parau
pecah kemarau














